Resources

5 Cara Mudah Membayar Utang Bagi Pelaku UMKM

Dalam dunia bisnis, utang merupakan hal yang lumrah. Sebab, ia bisa digunakan untuk mencari modal usaha dan ekspansi toko. Meskipun demikian, kamu harus tahu cara melunasi utang dengan baik.

Hal ini diperlukan sebagai cara untuk memulihkan stabilitas keuangan bisnis dan kredibilitas usaha di mata publik.

Pada dasarnya, utang untuk sesuatu yang produktif memang dibenarkan. Lagi pula, kamu nantinya bisa membayar cicilan tersebut dari keuntungan yang diperoleh dalam kegiatan bisnis.

Namun perlu diingat bahwa utang tetap menjadi beban keuangan. Jadi, kamu wajib membayar sampai lunas, agar bisnis bisa terus berkembang.

Lalu, bagaimana cara melunasi utang yang mudah bagi pelaku bisnis kecil? Yuk, simak ulasan lengkapnya di bawah ini!

5 Cara Melunasi Utang Sampai Lunas

cara melunasi utang

1. Buat rincian daftar utang

Cara melunasi utang yang pertama adalah dengan membuat rincian daftar utang.

Apa kamu memiliki lebih dari satu utang? Bila ya, kamu bisa buat rinciannya terlebih dahulu supaya bisa menentukan skala prioritas pembayarannya.

Skala prioritas tersebut bisa kamu tentukan mulai dari jenis utang, jumlah, tenor, hingga cicilan per bulannya.

Sebagai contoh, kamu utang ke supplier sebesar Rp10 juta, tenor 6 bulan tanpa bunga, fintech lending Rp5 juta dengan jangka waktu tiga bulan dan bunga 0,4 % per hari atau 12 persen per bulan.

Kemudian, cicilan utang per bulan ke supplier sebesar Rp1.667.000 dan fintech lending Rp1.867.000 dengan cicilan pokok ditambah bunga per bulan.

Intinya, buatlah daftar seperti itu terlebih dahulu, sehingga kamu bisa mengetahui mana cicilan yang harus diprioritaskan.

2. Bayar utang dengan bunga tinggi terlebih dahulu 

Cara untuk melunasi utang berikutnya adalah dengan membayar utang yang memiliki jumlah bunga tinggi terlebih dahulu.

Meskipun saat ini penjualan sedang sedikit dan omzet jauh dari target, utang tetap tidak boleh kamu abaikan.

Dalam kondisi seperti ini, kamu bisa mendahulukan pembayaran utang dengan bunga tinggi sebagai prioritas utama.

Kemudian, apalagi jika pihak kreditur mengenakan denda keterlambatan saat kamu telat membayar. Besaran utang itu akan bisa semakin bertambah.

Jika tidak ingin hal tersebut terjadi, seperti pada contoh nomor satu, kamu bisa mengutamakan pembayaran utang terlebih dahulu ke fintech lending.

Kemudian, baru ke supplier karena lebih fleksibel dan tanpa bunga.

3. Sisihkan uang untuk membayar utang 

Menyisihkan uang bisa menjadi cara melunasi utang yang jitu.

Pasalnya, tentu kamu butuh mempersiapkan dana untuk membayar utang.

Maka dari itu, cobalah untuk sisihkan sebagian pendapatan usaha untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Setidaknya, kamu bisa alokasikan 10% dari setiap pendapatan yang masuk untuk pelunasan utang. Sehingg, saat waktu pembayaran tiba, kamu sudah tidak perlu memikirkan dana lagi.

Sebagai contoh, bila omzet bisnis Rp1,5 juta per hari, kamu bisa sisihkan uang sekitar Rp150.000. Dalam waktu sebulan, kamu sudah bisa mengumpulkan Rp4,5 juta.

4. Tingkatkan penjualan dan berhemat 

Cara melunasi utang keempat yaitu dengan meningkatkan penjualan dan berhemat.

Supaya bisa mengumpulkan uang dan membayar utang, kamu harus gencar melakukan promosi. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan menambah pemasukan.

Selain itu juga, kamu bisa mengurangi sejumlah pengeluaran usaha yang tidak penting atau melakukan penghematan.

Sebagai contoh, menghemat pemakaian listrik dan air, lakukan promosi atau pemasaran tanpa biaya seperti lewat media sosial, dan upaya lainnya.

Dengan begitu, kamu bisa mengalokasikan lebih banyak uang untuk membayar utang, bahkan melunasinya lebih cepat.

5. Tidak menambah utang baru 

Cara melunasi utang yang terakhir dan paling penting adalah untuk tidak menambah utang baru.

Jika utang usaha saat ini sudah sangat besar, lebih baik tidak untuk mengambil utang baru lagi.

Sebab, nantinya pendapatan atau keuntungan yang kamu terima hanya habis untuk membayar cicilan utang.

Sehingga, kebutuhan utama lainnya jadi terbengkalai dan terhambat, seperti biaya produksi, gaji pegawai, dan lainnya.

Oleh sebab itu, kamu hanya boleh berutang jika sifatnya mendesak, dan bukan untuk yang konsumtif.